Tentang Saya

Rabu, 27 Juli 2016

Apa Kabar Gam?

Siang ini terik sekali. Tiba-tiba saya teringat Pujiono, kawan satu organisasi pencinta alam yang biasa kami panggil Gam itu. Misalnya siang ini ada Gam, tentu indah sekali. Saya bisa mengoloknya dengan merdeka. Mengapa harus Gam? Sebab ia tak pernah marah. Atau okelah tak perlu saling olok. Setidaknya saya punya teman bicara yang akan bercerita tentang kampung halamannya, tentang gunung, tentang berkhayal menanam ganja di tengah alun-alun lalu tak lama kemudian warga satu kota menjadi heboh dan kita tertawa-tawa sambil tetap sembunyi, tentang apa saja.

Gam, kamu dimana?

Gam adalah kamus Bahasa Melayu berjalan. Bersamanya, kita harus terbiasa mendengar kata-kata yang seharusnya tak asing. Misal; berserak, gamang, belanga, seteru, nak pergi ke seberang, dst. Kata Gam, ia sangat bersyukur di negeri ini ada sebuah bahasa bernama Bahasa Melayu alias Bahasa Indonesia. Jika tidak, Gam tentu akan menderita. Sebab ketika tinggal di Jember, ia banyak menjumpai orang-orang berbahasa Jawa yang halus, atau warga berbahasa Madura, sedangkan Gam tak menguasai keduanya dengan baik.

Dulu Bahasa Melayu yang menjadi lingua franca, terutama dalam perdagangan. Ia tidak hanya digunakan di Malaysia atau Semenanjung, melainkan digunakan juga di Jawa, Borneo, dan Sumatra sejak abad ketujuh masehi. Orang Arab, India, dan Cina juga berbicara dalam bahasa ini. Penjajahan Potugis, Belanda, dan Inggris memperkaya kosa kata Bahasa Melayu. Selanjutnya, Bahasa Inggrislah yang menyumbang begitu banyak kata serapan ke Bahasa Melayu. Namun, Bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa ini, ternyata mengalami perkembangan yang semakin jauh dari akarnya.

Jangan dikira saya jenius di bidang bahasa. Paragraf di atas hasilnya copas kok. Ngintip di blog orang yang bertutur tentang sebuah bahasa. Tapi paragraf colongan itu benar adanya. Setidaknya menurut Gam. Dia seringkali heran. Kadang coba mendiskusikan keheranannya dengan saya, tapi tidak pernah saya perhatikan. No reken!

"Kok ya masih ada kosakata sukses, padahal sudah ada kata hasil atau berhasil, atau apalah asal bukan sukses."

Kadang dia ngomel-ngomel sendiri ketika ada orang yang tertawa ketika Gam berkata-kata. Tertawa karena kami tak lagi terbiasa mendengar kosakata macam karcis, turut, dan entah apalagi. Jika nuruti Gam, maka mampuslah kita. Tumpur!

Gam seringkali menyebalkan. Tapi di siang yang terik ini, saya merindukannya. Apa kabar, Gam?

Jumat, 04 Maret 2016

Badanku Dulu Tak Begini

Tentu saja saya pernah kurus, langsing, dan atletis. Itu bertahan setidaknya di tahun-tahun pertama kuliah di Fakultas Teknik Universitas Jember. Ketika proses mengerjakan skripsi dulu, badan saya mulai melar dan tak terbendung. Saya menjadi sering makan. Kata orang terdekat, saya ini memang pawak'an gemuk.

Coba perhatikan foto di bawah ini. Ia diunggah di jejaring sosial Facebook oleh seorang teman bernama Ditaria Pe, pada 15 Juni 2009.


Foto Koleksi Ditaria Pe

Dalam foto di atas, tangan kanan saya sedang memegang lutut, dan saya tampak sedang berdekatan dengan sahabat bernama Riska Ayu Andriyani. Kata Ditaria Pe, foto ini diabadikan ketika ada shift 2 ujian Gamtek. Sudah lama sekali.

Bagaimana saya hari ini?

Tengoklah foto di bawah ini. Ia merupakan hasil jepretan Masbro RZ Hakim. Masbro dan Mbak Prit, mereka tiba-tiba datang ke toko, tepat di hari ulang tahun saya.


Dokumentasi Pada 4 Maret 2016

Seperti itulah keadaan saya sekarang. Hidup bahagia, menjaga toko --sebuah grosir di areal kampus-- dan mulai kembali langsing. Datanglah di toko yang saya kelola jika butuh sesuatu. Mulai dari bahan sembako hingga rokok toppas. Segala macam sabun pun ada. Lokasinya berada di JL. Karimata mepet dengan pertigaan menuju Perumahan Semeru, Jember.

Ohya teman-teman, terima kasih atas doa dan ucapannya, di hari ulang tahun saya. Kesuwon rek!